“pak kalo aku nggak bisa sekolah lagi, aku nggak keberatan kalau harus jadi petani membantu mbah kakung dan mbah putri”katanya dengan sedikit ragu pada ayahnya pada waktu itu.
“kalau kamu mau sekolah, ya sekolahlah setinggi langit. Jangan kayak bapakmu ini gak mau sekolah dan akhirnya ya…kayak gini uripe” saran ayahnya sekaligus memberi motivasi.
Pagi itu adalah saat yang mengesankan bagi Jafar karena selama ini dia tidak pernah merasa kalau dia memiliki seorang ayah yang begitu memahami dan mau berkorban apapun demi anak-anaknya. Lantaran sejak kecil dia hidup bersama simbahnya dan pak lik, bu liknya. Dia merasa asing jika ada ditengah ayah ibu dan adiknya. Kala itu, Jafar adalah orang yang serba terombang-ambing oleh keadaan yang membuatnya sedikit dilema dalam membuat keputusan untuk tinggal dengan ayah ibunya atau tetap bersama kakek neneknya.
“Dimana akan ku cari…Ayah dengarkanlah…aku ingin bernyayi…” lantunan lagu dari Rinto harahap mengingatkan Jafar pada ayahnya yang jarang ia temui. Sekolah tinggi buatnya adalah salah satu kesempatan yang hanya dimiliki keluarga kaya dikampungnya, karena hanya segelintir orang yang berhasil melanjutkan sekolahnya di jenjang lebih tinggi seperti universitas sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Jaman dulu dikampungnya masih lekat dengan pemikiran ”kenapa susah-susah sekolah tinggi kalau hasilnya cuman untuk menikah”
“mbok ya mending kamu ke sawah bantu mbah kakungmu itu, dari pada sekolah jauh-jauh. Apalagi kasian mbah putrimu harus nyari biaya sekolahmu” saran seorang bu lik istri dari pamanku. Saat itu Jafar hanya bisa diam dan memendam rasa marah pada wanita itu dan hatinya mengatakan “ Lihat saja nanti…” bu liknya itu memang terkenal tukang iri, mau menang sendiri, cerewet dan suka mencampuri urusan orang. Nenek Jafar adalah buruh tani.dia akan bekerja apa saja untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah yang pastinya dengan cara yang halal.dari mulai jadi tukang cuci, tukang pijat sampai tukang masak kalau ada acara penting dikampung ia jalani. orang di kampung dan sekitarnya mengenal neneknya sebagai seorang ahli serba bisa yang ulet.mungkin itu yang menjadi jafar mirip seperti neneknya, Jafar sangat sayang dengan neneknya, sekalipun kadang si nenek sering memaki atau berbuat kasar pada dia. From none jadi wonderwoman. Dari awal gak punya apa2, gak sekolah, tapi karena optimis dan kerja keras beliau bisa menghidupi 6 anaknya termasuk ayah jafar serta menghadiahkan beberapa rumah dan ladang untuk anak-anaknya. What a wonder!!!. Bisa dikatakan jafar terinspirasi oleh neneknya dan berusaha membuat tiap generesi dikeluarganya membuat suatu perubahan dan kemajuan... better, better and much better.
Saat lulus Smp Jafar ditanya oleh salah satu guru yang jadi wali kelasnya saat itu. Beliau mengajar mata pelajaran moral yang saat itu diberi nama PPKN(Pendidikan Pancasila Dan KewargaNegaraan) “ kamu mau nerusin kemana Jaf?” tanya Gurunya.
“saya sih pengennya ngembangin apa yang sudah saya bisa dan sukai. Yah karena kemampuan bahasa saya lumayan bagus, saya mau sekolah di Sekolah pariwisata Pak” jelasnya dengan yakin.
“pariwisata?SMK? terus nanti kamu mau kuliah setelah sekolah?” selidik pak guru.
“Saya sih pengen langsung kerja pak,yah…kerja dihotel atau jadi guide biar bisa bantu simbah dan bapak saya. Urusan kuliah atau nggak, kayaknya SMK juga bisa lanjut ke universitas kalau mau”.
“oh yaa sudah…semoga berhasil meraih cita-citamu”percakapan dengan gurunya itu masih selalu di ingat jafar. Memang Guru adalah pahlawan tanda jasa uang selalu mengharapkan anak didiknya berhasil meraih mimpinya.
Saat sekolah di smp Jafar sangat merasakan apa arti sebuah perbedaan status secara materi atau non materi, dia belajar bahwa status seseorang tidak diukur oleh seberapa kaya keluarga mereka, tapi apa yang bisa dia tunjukan sebagai siswa berprestasi. Karena sadar kalau Jafar tidak bisa membanggakan keluarganya yang berekonomi minim, dia berniat menunjukkan apa yang dia bisa. Saat Sekolah Dasar, dia termasuk siswa yang berprestasi dibidang seni walaupun dalam hal pelajaran bisa dibilang kurang. Jafar selalu mendapatkan kesempatan untuk berlomba di tingkat kecamatan hingga kabupaten. Dari lomba deklamasi, macapat hingga olahraga dia ikuti. Pada akhirnya, Macapat atau nembang jawa jadi pilihan gurunya untuk Jafar tekuni. Saat menang di tingkat kecamatan, keluarganya sangat bangga padanya walaupun mereka tahu kalau jafar anak yang malas, dan suka kluyuran. Beda dengan saat Di SMP, walau dia terkenal sebagai anak seni yang dikagumi guru-guru pencinta seni dia tidak begitu dianggap oleh guru-guru mata pelajaran eksak di kelasnya lantaran memang kurang. Saat akan naik kelas dua, dia terancam tidak lulus dan tidak naik kelas karena nilainya ada yang merah.tapi dia tetap naik kelas karena bantuan wali kelasnya,Bapak marsudi Wali kelasnya pada saat itu, beliau adalah seorang guru bahasa Jawa yang dia hormati dan dikaguminya, sosok seorang guru yang kental dengan budaya jawanya dan penyabar. Semua murid sudah mendapatkan rapor kenaikan dan hanya beberapa orang yang masih belum mendapatkan raport termasuk Jafar. Spontan, Jafar meneteskan air mata dan menunduk dengan kaku. Dia teringat waktu di permalukan oleh guru matematikanya didepan kelas saat mendapatkan nilai ujian matematika terendah.buatnya saat itu seperti sama apa yang dia rasakan sekarang. Terngiang-ngiang dalam telinganya saat dia memejamkan matanya dan teringat suasana yang tidak enak karena telah ditertawakan dan diejek oleh gurunya sendiri”gitu aja kok nggak bisa” kata-kata itulah yang membuat spontan teman-teman sekelasnya terbahak-bahak diiringi dengan senyuman sinis guru matematikannya itu.kala itu dia berjanji akan membalas perlakukan mereka dan akan membuktikan pada guru matematikanya kalau suatu saat akan membuat dia tidak tersenyum sinis seperti sekarang ini melainkan tersenyum bangga dan merasa menyesal telah mempermalukan anak didiknya didepan teman-teman sekelasnya. Air mata Jafar mengalir begitu deras saat tiba-tiba bapak marsudi memanggil namanya,”Jaf, kowe nagis? Lho kok pake acara nangis segala, kesini bapak mau ngomong sama kamu. Wong bapak nggak marahin kamu kok. Kesini, jangan nangis. Nggak ada apa-apa kok” dengan nada yang berwibawa dan kebapakan, pak marsudi membuat hati Jafar tenang.beliau menjelaskan dengan jelas kenapa rapornya tidak diberikan duluan seperti anak-anak yang lain, beliau memberikan saran dan nasehat layaknya seorang bapak memberi petuah pada anak tercintanya. Sejak saat itu dia berjanji tidak mengecewakan pak marsudi jika kelak menjadi wali kelasnya lagi.
Saat naik kelas Jafar kebagian Kelas yang Buatnya sangat menyenangkan sekaligus menggelikan. Karena banyak anak-anak yang bertingkah aneh di kelas. Seperti seorang siswa yang berbadan besar bernama Wahyono membuka celananya untuk berganti pakaian olahraga secara gamblang dimana masih ada siswa perempuan di kelas. Spontan, siswa perempuan yang tidak sengaja melihat “barangnya” berteriak histeris dan lari terbirit-birit sambil menangis. Bagi wahyono hal itu adalah kebanggaan bagi dia bisa memperlihatkan kejantanannya di depan cewek-cewek di kelas.atau saat ditengah-tengah pelajaran yang membosankan dua orang laki-laki sedang memperebutkan tahta “pria kokoh” dengan menyenderkan bukutulis setebal 20 halaman tepat diatas alat vital mereka untuk diangkat ke atas. Memang aneh dan sronok karena darah ABG baru berlangsung gencar-gencarnya pada waktu itu. Serta sikap wahyono dan anak-anak lain yang dianggap kelainan mental oleh para teman-teman sekelasnya.
Kelas 2C, kelas yang menjadikan dia sebagai siswa berprestasi dan disukai temen sekelasnya dari kalangan anak nakal dan anak yang paling pendiam serta aneh sekalipun. Jafar dikenal sebagai anak bermuka manis seperti anak perempuan, secara fisik memang begitu adanya karena dia dilahirkan dari ibu yang orang sunda berkulit putih langsat dan bapaknya yang berparas tampan.Konon kabarnya dulu waktu ibunya mau melahirkan karena tidak ada bidan terpaksa dukun bayi yang notabene adalah waria jadi salah satu orang yang membantu kelahiran Jafar hadir di dunia ini. Jafar sangat membenci kenyataan itu, sehingga dia kadang-kadang di kira banci yang kekanak-kanakan. Secara umur dia adalah siswa yang paling muda diantara yang lain, maka wajar kalau dia bersikap ingin diperhatikan dan manja.
Dengan bermodal latarbelakang yang sedikit menyinggung sejak itu jafar mengalami proses yang salah dekat dan menyukai seseorang.walaupun istilah “suka” tidak selalu berarti cinta atau jatuh cinta dan selnjutnya ketahap pacaran. Wajarnya lelaki menyukai perempuan, tetapi tidak untuk fajar dia menyukai seseorang yang tidak salah adalah temannya sendiri.
Jatmiko dwi pramudyo adalah salah satu teman se-angkatan yang dulu pernah menolongnya saat kegiatan osis yang melelahkan yang mengakibatkan mereka harus pulang dengan jalan kaki. karena Jafar sedikit Pusing dan kelelahan dia di papah layaknya anak kecil minta gendong kakaknya karena capek. Seorang Jatmiko yang tidak mempunyai adik karena dikeluarganya hanya ada 2 orang anak,dia dan kakaknya.
“Ko, kalo capek aku turun aja. Lagian rumahku kan lebih dekat dari rumahmu”.
“gak usah, aku masih kuat kok. Lagian kamu yakin bisa jalan?”tanyanya dengan nada terengah-engah.
Beberepa menit berlalu, tanpa kata, tanpa suara hanya tawa anak perempuan anggota osis lain yang juga harus berjalan kaki menyusuri jalan beraspal didepan mereka saat itu.beberapa saat kemudian Jafar telah menenggelamkan badannya karena sudah tidak kuat menahan lelah.beberapa saat kemudian Jatmiko membuka mulutnya”Kamu jadi adikku aja piye? biar ada temen yang selalu ada” katanya dengan sedikit bercanda.
“apa Ko, aku memang punya adik banyak. Mau?” jawab jafar sekenanya.
“gak…aku cu..man mau..tahu koq” jawabnya terbata.
“oh gitu, ya udah...trus aku harus manggil kamu mas ya…” canda Jafar. tempat pemberhentian angkot sudah dekat, Jatmiko menurunkan Jafar dan menawarkan membelikan sesuatu untuk menghilangkan rasa haus, berharap dapat menyembuhkan sedikit rasa lelah dan dahaga yang membelenggu. Beberapa saat kemudian jafar memutuskan tetap tinggal dan mengumpulkan tenaga untuk berjalan sendiri daripada harus menyusahkan teman yang sekarang dianggapnya kakak itu. Diwaktu yang bersamaan Jatmiko menanyakan jafar apakah tidak apa-apa kalau ditinggal sendirian. Dan seketika dia melengos pergi dan masuk angkot. Persahabatan yang kemudian menjadikan itu sebagai suatu ikatan persaudaraan bisa dibilang belum terlalu dipahami seorang jafar. Karena suatu ajakan menjalin persaudaraan sama halnya seperti mengungkapkan rasa cinta pada seorang. Mungkin ada benarnya kalau dukun waria itu mewariskan sedikit karaktenya pada Jafar.sehingga dia bisa berfikiran begitu, disisi lain Jafar hanya sedang merasa bahagia karena teman-teman yang mengejeknya tidak akan berani melakukan itu lagi karena dia memiliki kakak yang bisa membantunya untuk menutup mulut mereka dan berhenti mengejeknya.Sesuatu yang kita rasa bahwa memiliki ikatan persaudaraan,pertemanan atau pacaran adalah hal yang perlu dihormati dan dilakukan tanpa adanya rasa terikat dan takut untuk ditinggalkan. Hal itu mungkin belum sampai diotak Jafar yang saat itu mengharapkan hubungan itu tetap terus berlangsung selamanya. Saat mendengar dari beberapa teman sekelasnya kalau Jatmiko sudah punya pacar, ada perasaan was-was kalau nanti dia gak dapat kesempatan main bareng atau melakukan hal lain bersama seperti pulang bareng,nggluyur, atau mengerjakan tugas dan ekskul. Tapi Jafar sangat mempercayai teman yang dianggapnya kakak itu, bahwa semua akan tetap seperti biasa, hingga akhirnya Jatmiko memutuskan hubungan persaudaraan itu lagi karena beberapa temen dan pacarnya berfikiran kalau hubungan seperti itu nggak layak dan aneh. Mungkin teman-temannya tidak positif thinking, dan kala itu persaingan mendapatkan sesuatu termasuk teman adalah ajang yang sangat populer.
“jadi mas, nggak nganggap aku sodara lagi ya…” tanya jafar dengan sedikit tidak yakin mempertanyakannya.
“…mm…iya, knapa?” jawabnya kaku.
“nggak, nanya aja.makasih”
Saat itu Jafar sangat sedih karena dia kehilangan teman sekaligus sosok seorang kakak yang tidak lagi melindungi dan menemani dia di hari-hari yang sibuk di sekolah.sejak itu Jatmiko juga menjadi salah satu teman yang mengejeknya apalagi saat bersama teman sekelasnya yang lain. Mungkin dia ingin membuktikan bahwa dia juga merasa “Jijik” dengan jafar agar bisa diterima oleh teman sekelasnya dan tentunya sang pacar.waktu berlalu dengan cepat, Jafar naik kelas 3 dengan nilai yang sangat bagus dan membanggakan. Bahkan dia peringkat 3 besar dikelasnya mengalahkan siswa yang dikenal pintar.saat naik kelas 3 dia berkesempatan bertemu semua temannya waktu kelas 1 dulu. Plus dia sudah mampu membuktikan pada guru matematikannya bahwa dia bisa menjadi yang terbaik dari yang lain. Tahun-tahun terakhir membuat Jafar merasa kehilangan moment yang telah ia lalui dengan mulus, serta persahabatan yang mengesankan dia.Dengan apa yang telah terjadim syukurlah dia tidak melampiaskan kekecewaanya dengan hal-hal negarif seperti yang biasanya anak ABG lakukan.Sekolah adalah salah satu tempat pelarian dari rumah dan meninggalkan sejenak permasalahn yang menekan, walaupun sekolah adalah tempat mendapakan masalh baru tapi paling tidak ada teman-teman yang selalu siap berbagi suka dan duka.” Kadang teman terasa lebih dekat dibanding keluarga” pikirnya. Lulus dengan nilai lumayan membuat Jafar bertekad untuk meraih cita-cita yang sudah dia rencanakan. Kata yang tepat saat itu adalah ucapan terima kasih pada guru-guru yang menyayanginya dan memberinya motivasi hingga menjadi anak didik yang bisa bertanggung jawab. Dan teman-teman seperjuangan dan tidak lupa Jatmiko yang akan tetap jadi sosok seorang kakak bagi Jafar.