“wuih, lumayan dapat vitamin E nih!!!” pemandangan yang kala itu acap kali dinikmati tapi dengan suasan yang berbeda.Senja sore memancarkan ke elokkannya, sangat elegan mengiringi perjalanan yang sangat melelahkan hari itu.
“Aku jafar,umurku 22 tahun”.Anak desa yang harus bekerja keras berjuang merubah pemikiran masyarakat “bahwa kemiskinan tidak selalu dekat dengan kebodohan serta kekalahan menerima kenyataan hidup yang kejam” menjadi sebuah pemikiran yang selalu dipegang jafar untuk memotivasi hidupnya.hidup dikeluarga seorang buruh jahit di salah satu perusahaan kecil di Yogyakarta yang berharap menginspirasi orang-orang sederajatnya untuk berusaha menggali potensi diri sebagai modal meraih cita-cita demi masa depan yang lebih baik. Dia dilahirkan dan di besarkan di kota yang terkenal oleh salah satu keajaiban dunia-nya Candi Borobudur di magelang, Jawa Tengah. Sejak kecil diasuh oleh orang tua ayahnya alias kakek dan neneknya di kota kecil nan hijau.”Jaf, ayo bangun. Sekolah ora?” teriak neneknya.jafar memang terkenal tukang tidur, pemalas dan hal-hal buruk lainnya yang kalau di tulis akan sangat luar biasa panjang.”iyo mbah, sebentar lagi. Tanggung, masih terlalu pagi untuk bangun”.jawab sekenanya. Jafar sangat susah bangun pagi, terkenal sebagi siswa Telatan semenjak di sekolah dasar hingga bangku kuliahan sudah melekat dikulitnya. Jam weker mulai berdering keras bersamaan dengan alarm HP bututnya, bising kedengarannya. Tapi itu tidak mempan untuk membangunkan si raja tidur nan pemalas Jafar yang saat itu sedang bermimpi dibangunkan oleh Simbahnya. Jam menunjukkan jam 9 pagi,menandakan kuliah sudah dimulai di kampus terkenal di jogja pada waktu setempat, tapi Jafar hanya melihat jarum jam yang kian berdetik dan terus berjalan memutar.”huh, mati aku, Kalau kayak gini duniaku bisa kiamat duluan nih” ujarnya dalam hati. Kata hati memang selalu lain dengan perkataan, pagi itu dia bergerak slow motion dan nyante yang kalau di pikir itu tidak sesuai dengan apa yang di keluhkan hatinya.itulah hidup seorang Jafar yang bisa dikatakan unpredictable.sms di tuliskannya dengan cepat disalah satu nomer temen sekaligus sahabat dekatnya di kampus”Brur bilang dosennya aku telat, nih baru dijalan”. Sms yang aneh dan seharusnya tidak dia kirimkan, tapi dia pikir itu salah satu cara agar sesampainya di kelas nanti dia diterima oleh sang dosen yang terkenal on time dan tegas. Kuliah berjalan dengan sangat cepat jika penyampainnya menarik, tapi akan sangat lama dan membosankan jika penyampaiannya gak bisa di pahami, bertele-tele, gak jelas dan bikin ngantuk.
”makan yuk di Kantin, Laper nih”ajak sahabatnya yang berasal dari kupang.
”Tu me paye?” jawab Jafar dengan gaya bahasa perancis pas-pasan yang dia pelajari dikelas.yang artinya “loe yang bayarin?”.
”ok, tapi lain kali giliran kamu yang traktir”
“beres, bos.kalo dah gajian ya..”
“huh kamu ini kerja gak ada hasil, mending jual diri saja sama tante-tante tuh. Pasti laku” candanya dengan sedikit megejek.
“jangan gitulah kau, anak miskin dan terlantar kau yang pelihara kan?” balas Jafar.
“pemerintahlah, apa urusannya dengan aku?”. Jawabnya sinis dengan logat kupangnya yang kental.
Tapi acara makan gratis tetap didapat Jafar saat itu sebelum perjalanan ke tempat kerjanya di daerah selatan yang kalau ditempuh dengan bis kota berdurasi 25 menit dari kampus biru yang lebih tepat di namai kampus krem atau abu-abu atau apalah yang sesuai dengan warna cat tembok kampus. yang terkenal berkualitas di jogja.
Freedom writers is the liberty of expression through writing, telling story which depicting the nature of life. People have their own story, and all of you had one or even a thousand story that it might be delightful if you telling us what's happening....
Kamis, 04 Februari 2010
Heart Complainer
Ku rasakan beban yang kian mendesak dan menyumbat dadaku, terasa sesak tak sanggup untuk menahannya. Pening terasa di otakku saat aku mencoba memikirkannya. Aku bosan, aku gak tahan, seperti aku ingin menernggelamkan diriku di air dingin yang beku di lautan gletser yang mencair biar badanku mati rasa dan pikiranku berhenti memikirkan hal yang membuat hidupku susah.
Aku berlari sekencang-kencangnya. Berharap peluh membanjiri tubuhku dan lelah menerpa syaraf-syarafku agar aku tergeletak tak berdaya. Emosi yang tak terbendung tapi sulit untuk mengeluarkannya, seperti ada yang mengikatnya erat dan tak menginginkan itu pergi dari dalam diriku. Wahai hati, kenapa kau merasakan kepedihan dan kegalauan ini. Aku sedih kau tergores dan terluka, plester atau perbanpun sulit untuk menghentikan sakitmu. Wahai rasa, mengapa kau memberikan warna yang kelam pada hatiku. Mengapa kau taburkan pahit yang menusuk hatiku. Aku tak sanggup menahan rasa itu, aku tidak mau merasakannya terus menerus. Kasihanilah hatiku karena lambat laun warnanya tak semerah saat pertama yang masih bersih dan tak merasakan apapun, tapi sekarang warnanya hitam gelap seperti warna empedu yang penuh racun.
Adakah orang yang mau mengeluarkan racun yang melukai hatiku? Mampukah kamu mengobati rasa pahit dan sakitku? Ambilah hatiku ini, cabut dari dalam tubuh yang sudah meronta. Gantilah dengan hati yang baru. Jantungku sudah muak dengan aliran yang melumpuhkan tubuhku. Karena sakit dan terluka tidak akan membantu jantungku untuk tetap hidup lama. Nafasku berabu, hitam kelam seperti awan mendung yang menyimpan air hujan yang besar. Halilintar dalam nafasku mengejutkan hatiku dan memaksa jantungku untuk tetap memompa. Darah masuk dari bilik kanan jantungku dan keluar di arah yang berlawanan. Aku tak mau ini terjadi, aku ingin menghentikan semua. Walau aku masih takut dengan kematian tapi aku merindukan hari itu. Aku adalah jiwa yang merana, hatiku terluka dan hidupku tak berwarna.
Entah hanya karangan atau sandiwara hatiku merasakan semua ini. Tapi tidak ada cerita yang mengharapkan goresan kesedihan dengan tinta merah beraroma darah yang membusuk. Aku ingin cerita yang selalu happy ending dan memberi harapan. Tapi hidupku berhenti berharap, berhenti bermimpi, berhenti…dan diam tak bergerak. Mungkin aku perlu tinggal di bangsal RSJ dan membuatku diriku gila.. Cabut semua syaraf dan otakku, berikan aku chips memori yang terbatas, 1 GB mungkin sudah cukup. Keluh seorang hati yang selalu merasakan pahit, kala itu malem mejelang dan tiba-tiba tak terdengar suara keluha itu lagi, mungkin sudah lupa bagaimana rasa sakitnya untuk sesaat. tapi saat pagi mnerpa wajahnya pasti keluhan itu akan kembali sebelum dia temukan obat sakit hatinya itu.
Grtz
Aku berlari sekencang-kencangnya. Berharap peluh membanjiri tubuhku dan lelah menerpa syaraf-syarafku agar aku tergeletak tak berdaya. Emosi yang tak terbendung tapi sulit untuk mengeluarkannya, seperti ada yang mengikatnya erat dan tak menginginkan itu pergi dari dalam diriku. Wahai hati, kenapa kau merasakan kepedihan dan kegalauan ini. Aku sedih kau tergores dan terluka, plester atau perbanpun sulit untuk menghentikan sakitmu. Wahai rasa, mengapa kau memberikan warna yang kelam pada hatiku. Mengapa kau taburkan pahit yang menusuk hatiku. Aku tak sanggup menahan rasa itu, aku tidak mau merasakannya terus menerus. Kasihanilah hatiku karena lambat laun warnanya tak semerah saat pertama yang masih bersih dan tak merasakan apapun, tapi sekarang warnanya hitam gelap seperti warna empedu yang penuh racun.
Adakah orang yang mau mengeluarkan racun yang melukai hatiku? Mampukah kamu mengobati rasa pahit dan sakitku? Ambilah hatiku ini, cabut dari dalam tubuh yang sudah meronta. Gantilah dengan hati yang baru. Jantungku sudah muak dengan aliran yang melumpuhkan tubuhku. Karena sakit dan terluka tidak akan membantu jantungku untuk tetap hidup lama. Nafasku berabu, hitam kelam seperti awan mendung yang menyimpan air hujan yang besar. Halilintar dalam nafasku mengejutkan hatiku dan memaksa jantungku untuk tetap memompa. Darah masuk dari bilik kanan jantungku dan keluar di arah yang berlawanan. Aku tak mau ini terjadi, aku ingin menghentikan semua. Walau aku masih takut dengan kematian tapi aku merindukan hari itu. Aku adalah jiwa yang merana, hatiku terluka dan hidupku tak berwarna.
Entah hanya karangan atau sandiwara hatiku merasakan semua ini. Tapi tidak ada cerita yang mengharapkan goresan kesedihan dengan tinta merah beraroma darah yang membusuk. Aku ingin cerita yang selalu happy ending dan memberi harapan. Tapi hidupku berhenti berharap, berhenti bermimpi, berhenti…dan diam tak bergerak. Mungkin aku perlu tinggal di bangsal RSJ dan membuatku diriku gila.. Cabut semua syaraf dan otakku, berikan aku chips memori yang terbatas, 1 GB mungkin sudah cukup. Keluh seorang hati yang selalu merasakan pahit, kala itu malem mejelang dan tiba-tiba tak terdengar suara keluha itu lagi, mungkin sudah lupa bagaimana rasa sakitnya untuk sesaat. tapi saat pagi mnerpa wajahnya pasti keluhan itu akan kembali sebelum dia temukan obat sakit hatinya itu.
Grtz
Langganan:
Postingan (Atom)