Home

Selasa, 09 Februari 2010

Seberkas canda untuk Sahabat

“wah ternyata IP ku juga gak jelek-jelek amat” pikir Jafar.
“Tapi Ip ku lebih bagus daripada kamu, kayaknya calon cumlaude nih…”canda si kupang Ray.
“yah kamu punya waktu luang lebih dari cukup untuk urusin kuliah doang, lihat aku yang juga kerja dan do it all my self aja dapet segini” ujar Jafar dengan memperlihatkan KHSnya.
“yo wes, be tahu..”akhirnya dengan nada mengalah karena Ray tahu kalau Jafar memang Orang yang patut dihargai kerja kerasnya.
Ray dan Jafar bertemu saat registrasi mahasiswa baru 2006. Di tangga dekat kantor sekretariat di kampus, fakultas Ilmu Budaya yang akan dirubah menjadi sekolah Vokasi itu. Mereka menjadi teman yang terkenal akrab,lantaran sering pulang bareng dan menghabiskan waktu untuk makan bersama.Ray adalah teman yang pintar dan menyenangkan bagi Jafar walau kadang-kadang sering bikin hati dongkol. Teman satunya Jafar yang tidak begitu dekat tapi kenapa mereka sangat cocok kalau berjalan bertiga yaitu Luki anak atambua yang sering bicara memakai bahasa daerah NTT dengan ray karena bahasa daerah mereka sama.
“stop..stop..kalian ngomong apa sih? Aku nggak ngerti nih, kalian anggap aku apa? Aksesoris?” ledak Jafar.
“oh ya.. sori.. kita tuh ngomongin rencana kita nanti kalo dah lulus, mau ngapain”.jawab Luki.
“ya tapi kalau kalian pake bahasa planet lagi aku nggak dong..adanya jadi tulalit”.
“maaf bro, kita malah nggak ngrasa kalo loe ada” cetus Ray sambil tertawa terbahak-bahak.
Situasi seperti itulah yang disukai Jafar, walau berbeda bahasa, pemikiran, gaya hidup dan cara bercanda membuat mereka lebih berwarna dan nggak monoton. Dan membuat mereka menjadi teman yang saling mengisi.Entah mengapa saat tiba di kampus tempat pertama yang kami tuju adalah tempat nongkrong atau tempat makan. Berbeda dengan anak-anak lain yang serius dengan kegiatan dikampus dan kuliah padat.yang selalu datang ke perpustakaan dan menghabiskan waktu di kampus untuk melakukan UKM atau jadi aktivis ga jelas di kampus. Tapi tidak buat kami, kami selalu enjoy dengan suasana serba nyantai tapi tanggung jawab. Walaupun untuk jafar gak terlalu terlihat bertanggung jawab karena sering absen kuliah yang berakibat dia terancam jadi mahsiswa highlinder tapi di hati jafar dia ingin kuliah dengan semaksimal mungkin. Hanya keadaan yang tidak berpihak padanya dan membuatnya sebagai mahasiswa non teladan dan unbelieveable rajin. Masih banyak hal yang harus di pikirkan dan tentu pekerjaan selalu menanti dia, Salah satu alasan kenapa jafar lebih mementingkan pekerjaan daripada kuliahnya yaitu kuliah dan bertahan hidup itu butuh uang, without money is nothing weather money is not everything. Siapa sih yang gak mau duit? Jaman Sekarang segala sesuatu diukur dengan uang termasuk pendidikan. Modelnya yaitu ada uang ada barang. Kalau nggak…ya ke laut aja…reality show yang aneh tapi benar-benar terjadi.