Home

Kamis, 04 Februari 2010

Ma Vie En derniere Canal

“wuih, lumayan dapat vitamin E nih!!!” pemandangan yang kala itu acap kali dinikmati tapi dengan suasan yang berbeda.Senja sore memancarkan ke elokkannya, sangat elegan mengiringi perjalanan yang sangat melelahkan hari itu.
“Aku jafar,umurku 22 tahun”.Anak desa yang harus bekerja keras berjuang merubah pemikiran masyarakat “bahwa kemiskinan tidak selalu dekat dengan kebodohan serta kekalahan menerima kenyataan hidup yang kejam” menjadi sebuah pemikiran yang selalu dipegang jafar untuk memotivasi hidupnya.hidup dikeluarga seorang buruh jahit di salah satu perusahaan kecil di Yogyakarta yang berharap menginspirasi orang-orang sederajatnya untuk berusaha menggali potensi diri sebagai modal meraih cita-cita demi masa depan yang lebih baik. Dia dilahirkan dan di besarkan di kota yang terkenal oleh salah satu keajaiban dunia-nya Candi Borobudur di magelang, Jawa Tengah. Sejak kecil diasuh oleh orang tua ayahnya alias kakek dan neneknya di kota kecil nan hijau.”Jaf, ayo bangun. Sekolah ora?” teriak neneknya.jafar memang terkenal tukang tidur, pemalas dan hal-hal buruk lainnya yang kalau di tulis akan sangat luar biasa panjang.”iyo mbah, sebentar lagi. Tanggung, masih terlalu pagi untuk bangun”.jawab sekenanya. Jafar sangat susah bangun pagi, terkenal sebagi siswa Telatan semenjak di sekolah dasar hingga bangku kuliahan sudah melekat dikulitnya. Jam weker mulai berdering keras bersamaan dengan alarm HP bututnya, bising kedengarannya. Tapi itu tidak mempan untuk membangunkan si raja tidur nan pemalas Jafar yang saat itu sedang bermimpi dibangunkan oleh Simbahnya. Jam menunjukkan jam 9 pagi,menandakan kuliah sudah dimulai di kampus terkenal di jogja pada waktu setempat, tapi Jafar hanya melihat jarum jam yang kian berdetik dan terus berjalan memutar.”huh, mati aku, Kalau kayak gini duniaku bisa kiamat duluan nih” ujarnya dalam hati. Kata hati memang selalu lain dengan perkataan, pagi itu dia bergerak slow motion dan nyante yang kalau di pikir itu tidak sesuai dengan apa yang di keluhkan hatinya.itulah hidup seorang Jafar yang bisa dikatakan unpredictable.sms di tuliskannya dengan cepat disalah satu nomer temen sekaligus sahabat dekatnya di kampus”Brur bilang dosennya aku telat, nih baru dijalan”. Sms yang aneh dan seharusnya tidak dia kirimkan, tapi dia pikir itu salah satu cara agar sesampainya di kelas nanti dia diterima oleh sang dosen yang terkenal on time dan tegas. Kuliah berjalan dengan sangat cepat jika penyampainnya menarik, tapi akan sangat lama dan membosankan jika penyampaiannya gak bisa di pahami, bertele-tele, gak jelas dan bikin ngantuk.
”makan yuk di Kantin, Laper nih”ajak sahabatnya yang berasal dari kupang.
”Tu me paye?” jawab Jafar dengan gaya bahasa perancis pas-pasan yang dia pelajari dikelas.yang artinya “loe yang bayarin?”.
”ok, tapi lain kali giliran kamu yang traktir”
“beres, bos.kalo dah gajian ya..”
“huh kamu ini kerja gak ada hasil, mending jual diri saja sama tante-tante tuh. Pasti laku” candanya dengan sedikit megejek.
“jangan gitulah kau, anak miskin dan terlantar kau yang pelihara kan?” balas Jafar.
“pemerintahlah, apa urusannya dengan aku?”. Jawabnya sinis dengan logat kupangnya yang kental.
Tapi acara makan gratis tetap didapat Jafar saat itu sebelum perjalanan ke tempat kerjanya di daerah selatan yang kalau ditempuh dengan bis kota berdurasi 25 menit dari kampus biru yang lebih tepat di namai kampus krem atau abu-abu atau apalah yang sesuai dengan warna cat tembok kampus. yang terkenal berkualitas di jogja.

Tidak ada komentar: