Home

Kamis, 04 Februari 2010

Heart Complainer

Ku rasakan beban yang kian mendesak dan menyumbat dadaku, terasa sesak tak sanggup untuk menahannya. Pening terasa di otakku saat aku mencoba memikirkannya. Aku bosan, aku gak tahan, seperti aku ingin menernggelamkan diriku di air dingin yang beku di lautan gletser yang mencair biar badanku mati rasa dan pikiranku berhenti memikirkan hal yang membuat hidupku susah.
Aku berlari sekencang-kencangnya. Berharap peluh membanjiri tubuhku dan lelah menerpa syaraf-syarafku agar aku tergeletak tak berdaya. Emosi yang tak terbendung tapi sulit untuk mengeluarkannya, seperti ada yang mengikatnya erat dan tak menginginkan itu pergi dari dalam diriku. Wahai hati, kenapa kau merasakan kepedihan dan kegalauan ini. Aku sedih kau tergores dan terluka, plester atau perbanpun sulit untuk menghentikan sakitmu. Wahai rasa, mengapa kau memberikan warna yang kelam pada hatiku. Mengapa kau taburkan pahit yang menusuk hatiku. Aku tak sanggup menahan rasa itu, aku tidak mau merasakannya terus menerus. Kasihanilah hatiku karena lambat laun warnanya tak semerah saat pertama yang masih bersih dan tak merasakan apapun, tapi sekarang warnanya hitam gelap seperti warna empedu yang penuh racun.
Adakah orang yang mau mengeluarkan racun yang melukai hatiku? Mampukah kamu mengobati rasa pahit dan sakitku? Ambilah hatiku ini, cabut dari dalam tubuh yang sudah meronta. Gantilah dengan hati yang baru. Jantungku sudah muak dengan aliran yang melumpuhkan tubuhku. Karena sakit dan terluka tidak akan membantu jantungku untuk tetap hidup lama. Nafasku berabu, hitam kelam seperti awan mendung yang menyimpan air hujan yang besar. Halilintar dalam nafasku mengejutkan hatiku dan memaksa jantungku untuk tetap memompa. Darah masuk dari bilik kanan jantungku dan keluar di arah yang berlawanan. Aku tak mau ini terjadi, aku ingin menghentikan semua. Walau aku masih takut dengan kematian tapi aku merindukan hari itu. Aku adalah jiwa yang merana, hatiku terluka dan hidupku tak berwarna.
Entah hanya karangan atau sandiwara hatiku merasakan semua ini. Tapi tidak ada cerita yang mengharapkan goresan kesedihan dengan tinta merah beraroma darah yang membusuk. Aku ingin cerita yang selalu happy ending dan memberi harapan. Tapi hidupku berhenti berharap, berhenti bermimpi, berhenti…dan diam tak bergerak. Mungkin aku perlu tinggal di bangsal RSJ dan membuatku diriku gila.. Cabut semua syaraf dan otakku, berikan aku chips memori yang terbatas, 1 GB mungkin sudah cukup. Keluh seorang hati yang selalu merasakan pahit, kala itu malem mejelang dan tiba-tiba tak terdengar suara keluha itu lagi, mungkin sudah lupa bagaimana rasa sakitnya untuk sesaat. tapi saat pagi mnerpa wajahnya pasti keluhan itu akan kembali sebelum dia temukan obat sakit hatinya itu.

Grtz

Tidak ada komentar: